Jalan-jalan ke Pesantren

(INA)

Al Umanaa located in Sukabumi. It is a boarding school that has a circle ecosystem inside. We knew that place from FoodLap founder. FoodLap is a group that tries to make food trash becoming an animal (livestock) food. The boarding school has many students that should speak different languages, each day, such as Arabian, English, Japanese, and Indonesia.

Saat studio Desain Produk 4, saya, Dieta, Adri, dan Lupita menjadi satu tim. Kami bertemu dengan FoodLap, awalnya dari ide Lupita, yang punya banyak link di PSTK (Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan) ITB. FoodLap sendiri merupakan komunitas, yang terdiri dari ka Rani, ka Anka, dan ka Ridho sebagai pendirinya. FoodLap awalnya berfokus pada proses pengelolaan sampah makanan yang dimanfaatkan untuk pakan ternak. Belakangan ini mereka menggabungkan sistem di FoodLap dengan sistem di pesantren Al Umanaa di Sukabumi.

Terkesima karena baru pertama kali saya datang ke pesantren. Pesantren moderen ini mengajarkan seluruh anak yang belajar disana untuk hidup mandiri selama 24 jam. Segalanya dilakukan sampai detil. Tata krama anak adalah hal yang penting. Biasanya anak di sekolah belajar teori saja bahkan pelajaran itu menjadi hal yang sulit dimengerti dan dibayangkan, tetapi melalui praktek, murid dapat lebih menguasai apa yang mereka pelajari. Benar begitu? Tentu saja. Jadi untuk orang tua, jangan terlalu memanjakan anaknya dengan bermain gadget, kasihan dong anak.

Ekosistem belajar

Mewujudkan suatu ekosistem yang berkelanjutan pada satu komunitas saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Salut dengan pesantren ini. Mereka mengajak anak-anak sebagai penerus bangsa mulai dari usia dini agar dapat memanfaatkan segala hal yang ada di alam hingga mengolah sampah menjadi manfaat bagi kehidupan.

Di pesantren ini, mereka memberdayakan sampah untuk menjadi pakan ternak. Selain itu mereka juga membudidayakan ikan lele untuk dijadikan abon.

Anak-anak Al Umanaa

Kami hanya datang berempat dengan bermodalkan kue Amanda dari Bandung. Saya terkejut ketika kami disambut ramah dan juga mendapat hiburan dari pertunjukkan anak-anak disana. Mereka adalah siswa-siswi SMP. Sekitar 8 pertunjukkan baik itu melantunkan lagu Arab, mini drama, hingga membaca puisi. Eits, bedanya mereka tidak menggunakan bahasa Indonesia, melainkan menggunakan bahasa Arab, Jepang, dan juga Inggris. Yang luar biasa adalah mereka sangat lancar dalam menggunakan ketiga bahasa tersebut.

Teman akhir teman saya, yang bernama Charissa mengatakan bahwa bakat anak itu luar biasa, mereka pasti bisa meraih cita-cita mereka yang sesungguhnya. Oleh karena itu anak yang sukses bukanlah anak yang pelajaran eksaknya 100, tetapi ia mampu menjadi dirinya sendiri.

Jpeg
Tim DP4 – 2 Agustus 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.