SARJANA DAN PEMIMPIN

(INA)

———————————-

what2

Sarjana

Akhirnya lulus. Seorang sarjana.

Tapi… Saya selalu ingat bahwa ada jutaan orang yang ingin duduk di bangku kuliah namun mereka tak bisa…

Saya bersyukur karena dalam hidup ini diberikan kesempatan ini. Bukan lagi seorang anak, bukan lagi seorang siswa, bukan lagi seorang mahasiswa, tetapi orang yang telah matang untuk menyiapkan diri ke lapangan.

Empat tahun itu terasa cepat. Bahkan saya masih ingat sekali ketika pertama kali menginjakkan Sabuga untuk pendaftaran ulang. Empat tahun itu sebenarnya waktu yang singkat. Memperoleh kesempatan ini adalah sesuatu yang luar biasa.

Dibalik semua ini, dibalik suka cita ini saya dan teman-teman sarjana lain berkewajiban menanggung beban lebih untuk mensejahterahkan orang yang lebih banyak. Semakin tinggi ilmu yang didapat, semakin luas kita dapat memberi.

———————————-

Pemimpin

Di awal perkuliahan di kampus saya, terpampang spanduk dengan tulisan “Selamat datang pemimpin terbaik bangsa“. Kalimat ini menjadi hal yang kontroversial bagi kalangan massa kampus. Bagi saya hal ini merupakan sebuah tantangan untuk mahasiswa ITB agar dapat menjadi yang terbaik. Namun makna kata terbaik itu menjadi pertanyaan bagi saya. Adakah orang yang menjadi yang terbaik?

Setelah melewati masa 4 tahun, jawabannya tidak. Itu hanyalah sebuah kata. Kata yang dapat memuaskan diri kita seorang. Itu hanyalah status. Itu hanya salah satu bagian dari kemelekatan. Namun, tetap saja tak ada manusia yang paling baik.

Bagi saya, menjadi yang terbaik = ketika kita menjadi pribadi lebih baik daripada sebelumnya. Semua orang dapat menjadi yang terbaik. Oleh karena itu, ketika dihadapkan kalimat, Selamat datang pemimpin terbaik bangsa, artinya kita harus menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, dan setiap orang memiliki parameter tersendiri dalam hidupnya.

Diakhir sidang terbuka saat saya melepas status mahasiswa, rektor ITB pada saat itu juga mempertegas apa makna dari seorang pemimpin.

“Pemimpin bukan orang yang memiliki anak buah banyak, tapi pemimpin menghasilkan karya yg luar biasa”.

-pak Kadarsyah, sidang terbuka Juli 2016

Ketika menjadi seorang sosok pemimpin akan ada banyak tanggung jawab. Ketika kita hanya ingin menjadi pemimpin karena tahta, maka janganlah jadi seorang pemimpin. Pimpinlah orang yang membutuhkan seorang pemimpin. Buatlah dunia ini menjadi lebih baik dengan karya.

Dengan begitu kita patut bersyukur setiap saat dan siap menghadapi tantangan yang ada di negara ini maupun di dunia ini. Entah menjadi CEO, CFO, C….. , C++ bla bla bla atau menjadi staf, tetap saja apa yang kita kerjakan harus bertanggung jawab terhadap masyarakat. Jangan kira memiliki status pemimpin bisa membahagiakan orang lain, jika tidak memberi kontribusi (karya) bagi dunia ini.


One thought on “SARJANA DAN PEMIMPIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.