Refleksi Jendela, Sebuah Kebebasan

Tentu saja masih banyak orang yang sulit menghadapi masa depan karena luka masa lalu yang dalam membekas itu tidak mudah diobati. 
Apakah kebebasan itu masih kucari? 

——- Catatan ini merupakan pertanyaan dan ide pribadi terhadap masa depan.


Transisi positif mengenang 1998, sebuah perspektif berwajah oriental. Ini bukan cerita 1998, tapi cerita mengenai perbedaan. Mengapa masih ada diskriminasi di dunia ini? Mengapa membuat stigma? Mengapa dengan mudahnya orang menindas yang lemah?

Ketika aku sampai di Eropa aku paling terkejut melihat rumah-rumah yang transparan dengan kaca jendela yang besar.  Aku sendiri suka sekali berjemur di dalam rumah.

Kalau menelusuri kota di Belanda, bagaikan melihat rumah contoh. Jendela itu memperlihatkan keindahan interior rumah-rumah warga. Miris rasanya ketika teringat rumahku sendiri di Indonesia yang jendelanya dihalangi oleh sekat tralis besi. Kenapa? Karena masih ada ketakutan akan perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab di masa lalu. Sedih karena tidak bisa melihat jelas pemandangan di luar terhalang tiang tralis. Kalau di Belanda, ketika membuka pintu, aku langsung berhadapan dengan dunia, bukan pagar. Apakah aku masih mencari kebebasan di negaraku sendiri? Mungkin.

Wujud fisik menjadi salah satu bentuk diskriminasi yang paling mudah. Dimanapun kita berada dan hampir semua orang di dunia mengalaminya. Di negara manapun, bahkan di negara maju-pun. Kedengkian yang menjadi penyakit manusia. Bahkan human traficking masih merajalela. Kenapa harus merasa lemah dan buruk? Kenapa juga harus merendahkan orang lain? Kenapa terus menerus membuat stigma yang belum tentu benar adanya? Mungkinkah kesetaraan itu yang kita cari? Mungkinkah karena pemikiran kita yang terbatas? 

Pameran foto Jimmy Nelson: Homage to Humanity, Desember 2020, Museum aan het Vrijthof yang memperlihatkan karya beragam etnis, suku, dan bangsa https://www.jimmynelson.com/

Tentu saja masih banyak orang yang sulit menghadapi masa depan karena luka di masa lalu yang membekas itu tidak mudah diobati. Memang rasanya tidak adil, terperangkap dalam kepedihan masa lalu dan bergantung pada semua ketidakpastian. Yah, fokus pada masa kini untuk kehidupan yang lebih baik. Semua kebaikkan pasti ada hikmahnya. Mungkin semua sudah berubah, kekejaman itu semoga tak terulangi lagi.

Namun aku percaya, pada dasarnya manusia berevolusi, semakin hari semakin bersatu. Teknologi merubah semua itu. Mungkin juga Covid-19 yang merubah semua itu. Ditambah dengan adanya generasi milenial dan generasi z yang pemikirannya cenderung inovatif dan terbuka, aku rasa orang-orang akan semakin melihat hidup pada kenyamanan dan dampak positif. Kalau waktu aku SD, sering sekali melihat yang namanya anak SMA tawuran, mungkin sekarang sudah semakin berkurang. Anarkisme bukanlah sesuatu yang keren bagi generasi Z, melainkan aktualisasi diri melalui online, berbuat hal yang positif. Kita semakin pintar, apakah benar begitu? 


#GenerasiMudaBisa! #IamIndonesian #toleran #positivisme #stopstigma #humanrights #EveryoneIsHuman


One thought on “Refleksi Jendela, Sebuah Kebebasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.