Kuliah S2 desain di TU Delft Belanda dengan beasiswa penuh (part 1/3: Motivasi)

(INA)

Terima kasih kepada teman-teman yang mendengar sesi sharing aku di tanggal 6 Mei 2020 di webinar Study in Europe via ClickMeeting dan juga Talkshow Indonesia Mengglobal 30 Mei 2020. Dan juga yang ngejapri untuk tanya-tanya seputar beasiswa yang aku dapat (Justus en Louise van Effen Excellence Scholarship).

Tulisan dalam postingan ini aku persembahkan untuk teman-teman yang berniat apply kuliah s2. Di part 1 ini, aku akan sharing tentang motivasi dan alasan memilih kuliah S2.

Tulisan di blog ini adalah opini pribadi, maka dari itu sifatnya cenderung subjektif.

Motivasi – Bagaimana awalnya memutuskan untuk kuliah S2 di luar negeri?
Aku belajar mengenai desain produk saat mengejar gelar S1 dan merasa risih karena aku belum menemukan jalur yang benar-benar ingin kulakukan karena semua hal menarik dan membuatku bingung. Segala hal bertransformasi dengan cepat, masalah dan perkembangan teknologi.

Lalu aku bertanya pada diri sendiri, “Apa yang aku benci di dunia ini?”. Aku menjawab, aku benci orang yang mengkonsumsi berlebihan, aku benci sampah di dunia terlalu banyak, aku benci melihat kesenjangan di dunia ini. Berawal dari kebencian itu aku memutuskan aku inigin berkontribusi dan menjadi desainer yang fokus pada isu sustainability dan inclusivity. Waktu itu ingin mencari pekerjaan yang mengarah kesana, namun sulit untuk bertemu dengan orang-orang yang sepemikiran, dan akhirnya aku berniat untuk bertemu ahlinya! Ya, di negara maju, salah satu negara yang aku tau adalah Belanda dan juga karena ada program studi yang cocok dengan apa yang aku butuhkan. Ya aku ingin belajar di Belanda!

Apa yang kau cari?

Apa yang kau butuhkan?

Apakah ilmu itu untukmu saja atau untuk orang lain?

Apakah penting sebuah gelar itu?

Apakah yakin kamu bisa berubah jadi lebih baik?

Life is only once, you decide.

Konsep yang salah tentang tujuan S2 di luar negeri.
Banyak yang berpikir tujuan untuk kuliah lagi adalah agar mendapatkan finansial lebih baik setelah mendapatkan gelar master. Atau sekedar biar keren aja ada pengalaman ke luar negeri. Buat aku, big NO. Jangan sampai hal itu jadi tujuan utamamu, karena kalau iya kamu mungkin gak akan siap dengan tantangan yang dihadapi nanti saat kamu menjadi mahasiswa S2 di luar negeri.

Lalu apa yang baik dilakukan? Coba pikirkan, alasan terdalam kenapa kamu butuh sekolah lagi? Start from WHY.

Tips lainnya untuk menentukan apa yang kamu ingin lakukan, bisa dengan memahami konsep Ikigai. Ikigai merupakan sebuah konsep dari Jepang untuk menemukan alasan hidup. Ada 4 faktor yang bisa menjadi acuan dalam memilih tujuan hidup: apa yang kamu cintai (passion), apa yang dunia butuhkan (mission), apa yang kamu bisa lakukan (vocation), dan apa yang bisa kamu dapatkan (profession). Gabungan dari keempat faktor tersebut adalah ikigai.

Lalu aku coba rangkum teknik Ikigai ala-ala Vivi, semoga membantu:

Tips ala-ala

Alasan aku kuliah S2 di luar negeri

  1. Mencari jati diri
    Artinya adalah mencari siapa aku sebenarnya dengan cara lain. Terkadang tinggal di Indonesia itu pahit, baik komunitasnya maupun lingkungannya. Maka dari itu sering sekali aku merasa belum menjadi diri sendiri. Waktu itu ingin sekali menggali potensi diri lebih dalam dengan berada di lingkungan internasional. Ditambah saya juga kesulitan menemukan hal yang ingin aku lalukan di dunia kerja pada waktu itu, sehingga 3 tahun lamanya setelah saya lulus S1 merupakan bagian dari proses eksplorasi mencari jati diri.
  2. Networking
    Kalau aku sendiri berpendapat bahwa tahu dunia luar itu penting. Aku benar-benar butuh itu. Penting banget karena dengan mengerti dan memahami pola pikir orang lain, membuat aku jadi lebih open minded. Tapi apakah untuk tau dunia luar hanya lewat S2 saja? Jawabannya tidak. Pengalaman itu bisa dimulai ketika aku ikut organisasi, ikut volunteer internasional, ikut kelas online gratis dari univeristas luar negeri dan bahkan bisa dimulai ketika aku traveling ke Bali (loh, maaf jadi promosi) lalu bertemu teman internasional baru.
  3. Belum menemukan mentor atau ahli di Indonesia
    Dulu sempat ditawari mengikuti jalur fast track S1+S2 dalam kurun 5 tahun. Namun S2 yang ditawarkan sangatlah bervariatif. Aku masih belum merasa cocok dengan pengajar yang ada. Maka dari itu ingin sekali mencari orang yang ahli.
  4. Terus update
    Tau perkembangan disiplin ilmu yang disukai (desain produk) dan topik yang disukai (sustainability). Awal mula desain produk industri berada di benua Eropa. Kalau ngomongin isu lingkungan, negara Eropa lebih punya pengalaman. Walaupun konteksnya berbeda antara negara maju dan negara berkembang, setidaknya negara maju mengerti apa yang harus dilakukan. Ditambah banyak sekali start-up atau inisiatif lingkungan hidup yang bermunculan di negara Belanda. Maka dari itu belajar langsung dari sumbernya membuat aku lebih semangat.

Memilih universitas: Kenapa pilih jurusan desain di sekolah teknik?

Jadi memilih jurusan desain di sekolah teknik 2x (S1 dan S2) itu adalah kebetulan. Karena peluang dan juga beberapa alasan lainnya. Dulu ingin banget masuk ke jurusan desain tradisional, namun pengalaman dan juga minat juga kuat di desain inovasi berbau-bau teknik. Tugas akhir saya saja mendesain mobil listrik. Jadi ketagihan deh.

Kenapa ga Harvard aja mumpung ada di list LPDP? Mau ke Harvard, tapi jujur network aku ngga ada yang mengarah ke universitas tersebut. Pengalaman, kepribadian, dan juga kebutuhan karir tidak cocok dengan Harvard. Dan juga jiwa, raga, dan pemikiran ga cocok. Dan ketika riset, Eropa adalah tempat yang cocok. Walaupun Strategic Product Design bukan tempat yang top untuk anak desain tradisional*, tetapi pola pikir jurusan Strategic Product Design relevan dan cocok untuk dunia kerja yang berkembang sangat cepat. Dan pola pikir itu yang aku cari. Saya memang mencari jurusan yang mengasah soft skill untuk menjadi orang yang mengerti di ranah strategi, bisnis, dan manejemen. Tiap orang memiliki tujuan yang berbeda loh. Mungkin teman-teman ada yang ingin lebih mengasah skill atau sekedar mempelajari ilmunya saja. Coba mengenal lebih jauh diri sendiri!

*desain tradisional meliputi keilmuan desain seperti graphic design, product design, interior design, interaction design, architecture, dll.

Jangan sampai ketika kamu kuliah kamu merasa under atau over-experctation.

Kenapa TU Delft? Kenapa ngga di universitas lain seperti Polimi di Italy atau tempat serupa di negara Scandinavia yang menawarkan program serupa?

  • Peluang beasiswa. Ngga bisa bayar buat kuliah & hidup seharga 1 M :”) Walaupun LPDP menutup jalur beasiswa ke TU Delft, tetapi masih ada peluang beasiswa dari TU Delft dan kerja sama Indo-Belanda nuffic neso.
  • Ada program studi yang aku suka dan sepertinya cocok!
  • Riset tentang topik sustainability yang menjamur di TU Delft.
  • Komunitas mahasiswa di TU Delft aktif banget. Ada beberapa komunitas yang bisa mahasiswa ikuti, seperti program inkubator start-up, student board, komunitas olahraga (walaupun ga ikutan), dan PPI.
  • Kualitas alumni menarik perhatian.
  • TU Delft memiliki akreditasi tinggi. Bahkan Fakultas sipil dan arsitekturnya merupakan top 5 di dunia, sekarang top 2 (2020). Jadi punya lingkungan pertemanan yang kompetitif. Sama seperti dikala dulu kuliah di ITB. hehe.
  • Berbahasa Inggris. Karena kelemahanku di bahasa, jadi aku mencari universitas yang proses belajarnya bisa menggunakan bahasa Inggris.

Kenapa ‘Strategic Product Design‘? Kenapa ngga pilih jurusan ‘Design for Interaction‘ atau ‘Integrated Product Design‘?

Sebenarnya desain yang baik adalah desain yang mengerti 3 sudut pandang: teknologi, bisnis, dan manusianya. Awal mula ketemu TU Delft, aku ingin sekali kuliah yang benar-benar ada unsur tekniknya seperti yang dipelajari di Integrated Product Design. Tetapi saat aku lulus kuliah S1, aku mendapat demotivasi dari dosen pembimbing sendiri kalau aku kurang punya portofolio di sisi teknis walaupun tugas akhir tentang electric vehicle. Huhu sedih ya. Padahal sebenarnya tidak apa-apa, dosen hanya menakuti. Lalu di dunia kerja, aku banyak melakukan hal-hal yang berkaitan dengan Design for Interaction yang berhubungan erat dengan manusia. Karena aku merasa tidak begitu tertarik di interaksi dan karena sudah banyak yang ahli di Indonesia, jadi aku tidak memilih program Design for Interaction.

Banyak softskills yang aku perlukan untuk menjadi desainer yang aku inginkan. Dan hal tersebut bisa aku temui di Strategic Product Design. Selain tertarik untuk mendesain di ranah yang lebih abstrak dalam sebuah inovasi, aku juga tertantang untuk belajar lebih banyak di networking dan management. Kadang kangen karena aku tidak lagi melakukan hal-hal desain tradisional, seperti menggambar, mendesain melalui 3D modelling. Semua hal berubah. Tapi pemikiran orang-orang mengenai desainer belum berubah. Ya, tukang gambar?

Keilmuan desain terus berubah seperti perubahan pada teknologi

Kenapa ga kuliah di business school aja?

Hmm jawabannya karena aku mau menjadi berbeda dari yang lain… dan aku suka dengan cara pendekatan desain dalam menyelesaikan masalah. Lagipula MBA sudah terlalu mainstream, Indonesia butuh keahlian khusus lainnya agar membuka peluang-peluang baru lainnya. Ya, kan? 😀

Hemm, apabila ada pertanyaan lain mengenai motivasi, silahkan tulis di kolom komentar, akan aku jawab di page yang sama 🙂

Terima kasih telah membaca postingan ini. Untuk part 2, aku akan membahas lebih detail mengenai beasiswa yang aku dapat. Part 3 belum tahu mau bahas tentang apa. Mungkin mengenai ekspektasi atau kehidupan belajar (desain) di Belanda. Ada saran?


2 thoughts on “Kuliah S2 desain di TU Delft Belanda dengan beasiswa penuh (part 1/3: Motivasi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.